http://www.bocahit.com
e-mail: support@londoncreative.co.uk

Cerita Sex Dewasa Anal Dengan Teman Sekantor

foto hanya ilustrasi

Ku masukan penisku pelan-pelan ke lobang dubur Vina, awalnya cukup susah.. penisku yang sudah sangat keraspun beberapa kali bengkok karena belum berhasil masuk ke lobang anal Vina yang belum pernah di jamah sama sekali.

Perkenalkan, namaku aris ... saat ini aku menjabat sebagai konsultan di sebuah perusahaan multinasional yang berpusat di tanggerang. Umurku 27 sedang tinggiku hanya 175 dan kulitku tidak terlalu putih dan juga tidak terlalu hitam. Beberapa teman kantorku mengatakan kalau aku masuk ke cowok lumayan belum masuk kategori idaman.

Cerita ini berawal dari saat aku di tugaskan untuk meninjau proyek sekaligus juga mengadakan pertemuan dengan Manajemen kantor cabang di Palembang.


awalnya aku akan berangkat dengan bu Dina, Manajerku di kantor pusat, namun karena beliau mendadak harus ke singapura menemani suaminya berobat maka aku ditugaskan bersama Vina teman sekantorku yang merupakan sekertaris kepercayaan bu Dina.


Vina adalah wanita dengan satu orang anak, seumuran denganku ... namun karena dia cewek jadi sudah berkeluarga sedangkan aku merasa masih terlalu muda untuk berkeluarga.

Suami Vina bekerja di sebuah Mall yang buka dari pagi dan pulang jam 10 malam. Itu yang aku dengar dari vina, suaminya bekerja 7 hari seminggu dan 28 hari sebulan. Itu artinya mereka hanya punya dua hari libur.

Sebenarnya Vina termasuk tipikal wanita anggun, tidak terlalu tinggi, kulitnya putih rambutnya sebahu. Cerdas, cekatan, pakaianya sopan dan tidak suka bercanda apalagi genit-genitan terhadap pria.

Aku sebenarnya sering memperhatikanya, disamping karena dia putih, bagiku tubuh Vina cukup menggairahkan. Karena tidak kurus dan tidak gemuk. Payudaranya sepertinya lembut dan badanya pasti lembut dan empuk... aku sering menghayal menyetubuhinya sambil masturbasi di kamar kost.


Walau ada beberapa wanita yang menarik perhatianku, Vina termasuk salah satunya namun aku selalu menjaga sikap padanya sebagai bentuk penghormatanku. Dan dia juga sepertinya cukup segan padaku karena bu Dina sering memuji kinerjaku di hadapan Vina.

Karena ada resecedule, maka aku terpaksa terbang terlebih dahulu ke palembang dan Vina menyusul. 
Tiket hotel pun sudah di tangan, maka sesampainya di palembang aku langsung beristirahat di hotel. Saat manajemen kantor cabang menghubungiku aku bilang besok saja jemput di hotel, karena maam ini aku mau istirahat.

Vina terbang jam 17.30, karena tiket pesawat atas nama bu Dina harus di Resecedule menjadi namanya dan terpaksa penerbangan di alaihkan ke jam berikutnya.

Sesampainya Vina di palembang, dia menghubungiku menanyakan alamat hotel. Aku tidak mengira kalau Vina ternyata belum di pesankan kamar hotel. Sehingga sesampainya di hotel Vina kebingungan karena mengira tiket hotel ada padaku.

Sambil menunggu kabar dari kantor pusat, Vina minnta istirahat di kamar yang kutempati. Maka diapun aku ajak ke kamarku. Vina sempat mandi dan ganti baju, bahkan kamipun pesan makanan untuk diantar kekamar karena malas turun.

Sampai jam 9 malam belum ada kepastian perihal tiket hotel Vina, sampai ahirnya aku putuskan mengajak Vina ke recepsionis untuk pesan satu kamar lagi biarlah aku yang membayarnya.

Namun tak disangka, semua kamar telah terboking karena malam itu ada resepsi pernikahan salah satu pejabat di hotel yang ku tempati.


Ahirnya kami memutuskan untuk membicarakanya di kamar, sampai dikamar ahirnya aku bilang pada Vina biarlah aku yang akan cari Hotel di tempat lain, dan kamar itu biarlah ditempati Vina. Tapi Vina sepertinya keberatan.


“Ris udah lah, biar aku tidur disini aja, kamu juga ga usah nyari hotel lagi, repot besok pagi kita ketemuanya, lagian aku sepi ga ada kawan apalagi ini kali pertama aku di palembang.”

Aku sebenernya kaget dan ga nyangka Vina seberani itu, karena selama ini aku mengenal vina sangat menjaga jarak dengan pria.

Aku sebenarnya masih nggantung, baju-baju yang tadinya aku gantungpun telah terlanjur aku pack di tas lagi.

Untuk meyakinkanku akan kesungguhan kata-katanya Vina kemudian membongkar isi koperku dan mengeluarkanyaa serta menggantung pakaianku di lemari bersama pakaianya, bahkan pakaian dalamkupun di masukan satu rak dengan pakaian dalamnya.

Ahirnya akupun mandi dan berganti baju, aku lihat vina sedang menonton TV. Aku sengaja duduk di sofa kamar yang kebetulan cukup panjang untuk rebahan.

Aku berniat tidur di sofa, dan biarlah Vina tidur di ranjang.

Tiba-tiba suara hp Vina berdering, aku dengar percakapan Vina dan suaminya yang berujung Vina marah dan menutup telvonya.



Setelah lama terdiam, aku mencoba menanyakan perihal pertengkaranya dg suaminya, lalu vina bercerita dari atas ranjang sedang aku di sofa.

Vina mengeluhkan kesibukan suaminya yang tak pernah ada waktu untuk keluarga, sedangkan saat dia pergi keluar kota seperti sekarang saminya tidak mendukungnya.

Lalu aku mencoba untuk memberi masukan dan saran yang menenangkan hatinya.
Saat jam menunjukan jam 10 malam dan aku berniat memejamkan mataku di sofa,Vina memanggilku. “ Ris tidur disini saja, kan lebar”
aku bingung “aku belum pernah tidur sekamar degan cewek apalagi satu ranjang”
Vina memaksaku untu tidur di ranjang, dia beralasan masih ingin cerita banayak.
Sambil berhadapan, kami melanjutkan pembahasan permasaahan Vina sampai berlanjut ke masalah kantor dan lainya... posisiku miring ke kiri sambil memeluk guling menghadap ke Vina yang miring 

kekanan juga sambil memeluk guling menghadapku.


Aku senbenarnya beberapa kali memperhatikan tubuh Vina yang terbaring di sampingku hanya meggunakan daster bunga tipis namun longgar. Sebenarnya masih kategori sopan namun karena aku memang menyukai tubuh vina  maka aku sering mencuri-curi kesempatan.

Sejenak kami tertidur, sampai pada saat jam 1 malam aku terjaa karena banyak suara sepatu di luar... sepertinya para tamu resepsi sudah usai sehingga mereka beristirahat di kamar. Saat kulirik Vina ternyata dia juga terbangun. Vina minta lampunya di matikan saja biar bisa tidur lagi, maka hanya lampu tidur yang temaram menambah indah pemandangan di depan mataku.

Vina tidur tidak menggunakan selimut, hanya sebatas lutut saja slimut di pakainya..

Satu jam kemudian, ku lihat Vina belum juga terlelap, akupun demikian... sampai ahirnya Vina menghadap kearahku.

“Ris aku ga bisa bobo...”
lalu vina memintaku untuk mengusap-usap rambutnya biar bisa lelap katanya, namun 30 menit kemudian masih tidak tidur juga, sampai ahirnya aku bercanda: “ sini kupeluk aja biar bisa bobo” sambil tertawa..

Ternyata candaanku di tanggapi serius oleh Vina, tubuhku dipeluknya dan kepalanya di sandarkan di dadaku. Aku kaget tapi tak juga keberatan.
“ris damai ya di peluk kamu”

Aku tak berani berbuat macam-macam, hanya nemeluk Vina dan membelai rambutnya.. sampai aku terlelap dan tiba-tiba terjaga saat kurasakan Vina sedang mengecup bibirku, lalu mengulumnya... aku balas lumatan bibir Vina sampai pada ahirnya ciuman kami semakin panas...


Tangan Vina langsung menjamah selakanganku dan tanganku di tuntunya ke payudaranya.

Maka kegiatan saling merangsngpun terlaksana, penisku di keluarkanya dari dalam celana pendeku, bahkan dengan cekatan Vina telah melepas celanaku. Kini dia mengoral penisku dengan lahap.

Aku tak tinggal diam, aku tarik daser vina ke atas sampai terlepas, ku copot kaitan BH vina, dan juga aku tanggalkan celana dalamnya. Kini hanya aku yang masih mengunakan kaos, itupun tak bertahan lama di copotnya oleh Vina sampai ahirnya kami berda benar-benar telanjang bulatt. Aku rebahkan tubuh vina, ku hisap payudaranya yang kiri dan kuremas yang kanan, begitu terus bergantian.
lalu kulihat vina telah horni berat, ahirnya dia naik diatas tubuhku dan penisku langsung di masukinya ke lubang vaginanya, blessss dan ceplak ceplok.... suara kemaluan kami yang saling bertemu.
Vagina Vina sudah cukup longgar namun masih cukup kencang cengkramanya.

Pantatnya meliuk memutar, membuat penisku seakan mau patah... sampai pada ahirnya Vina mengejang dan menjerit.. “Ah....... Ari....ssssss......” lalu dia lunlai diatas tubuhku sambil tetap cpenisku masih dalam vaginanya.

Tak berselang lama, Vina mulai menggerakan lagi naik turun, sangat cepat sekali Vina terangsang... hanya dalam beberapa puluh kali goyangan dia mulai mencengkeram dadaku lalu bibirnya menggigit leherku dan dia kembali terpekik orgasme yang kedua kalinya.
“Ris ayo dikeluarin” pinta Vina...


“Aku mau dikeluarin tapi dilobang Vina yang masih virgin” jawabku
“Virgin gemana, aku kan sudah punya anak”...
aku pegang lobang  dubur Vina,sampil ku tunjuk. 
“Vina tersenyum, ambil aja kalau kamu mau.” Jawab vina.


maka segera Ku coba  masukan penisku pelan-pelan ke lobang dubur Vina, awalnya cukup susah.. penisku yang sudah sangat keraspun beberapa kali bengkok karena belum berhasil masuk ke lobang anal Vina yang belum pernah di jamah sama sekali.


Sampai beberapa saat atas bantuan Vina juga kepala penisku masuk di dubur vina yang sempit dan mencengkeram itu...


Rasa nikmat bercampur perih dalam penisku... 
Ku coba memasukan lebih dalam, semakin dalam semakin nikmat. Akhirnya penisku amblas dalam lobang anal Vina.

Kulihat vina merem melek, menahan nikmat dan geli, sampai ahirnya vina memutar pantatnya membuat penisku terjepit dan ah.... pertahananku jebol... seluruh spermaku kusemprotkan di lobang anal vina.

ahirnya kami tumbang dan tertidur dalam keadaan berpelukan...

0 komentar:

Cerita Sex Dewasa MEMEK LEGIT PENJUAL JAMU GENDONG


PENJUAL JAMU GENDONG DI JALAN LINTAS PALEMBANG-JAMBI
Siang   itu aku berkendara menggunakan mobil kantor sendiri, setelah seminggu di jambi, Jumat siang aku diberi tugas oleh kantor pusat di tanggeraang untuk memimpin meeting di kantor cabang di Palembang hari sabtu siang, karena perjalanan dari jambi ke palembang memakan waktu 5-6 jam maka aku sengaja berangkat pada jumat siang agar bisa menginap di palembang guna mempersiapkan bahan.

Namaku Aris, aku bekerja pada sebuah perusahaan multinasional yang berpusat di tanggerang dan sudah 5 bulan ini aku di tugaskan di kantor cabang di Palembang yang juga memiliki anak cabang di Jambi. Tinggiku proporsional, wajah cukupan saja, dan tnggi badanku juga lumayan saja.
Aku sengaja membawa mobil sendiri, karena sopir yang biasanya mengantarku sedang ada acara keluarga, yang artinya jika aku naik pesawat dari Jambi ke palembang maka mobil perusahaan yang biasa kupakai akan kutinggal di jambi dan untuk lalu lalang aku saat di palembang akan terganggu karena harus menggunakan mobil perusahaan yang lainya yang mungkin saja telah memiliki jadwal dipakai oleh karyawan. Walaupun sebagai seorang konsultan perusahaan aku akan mendapat prioritas namun aku merasa kurang enak bila ada scedul kawan lain yang terganggu olehku.
Jam 1 siang aku mulai keluar dari perbatasan kota jambi, mendung terlihat mulai mengelayut. Aku mencoba memutar musik di audio mobilku.

Satu jam kemudian, hujan turun dengan deras... saat itu aku telah memasuki kabupaten terahir yang artinya saat keluar dari batas kabupaten akan memasuki provinsi sumsel.

Saat melewati tikungan dan hujan mulai deras, aku sekilas melihat orang melambaikan tangan di pinggir jalan. Karena suasana hujan dan gelap aku secara reflek langsung menepikan mobilku tanpa melihat siapa yang menyetop.

Ternyata saat aku buka pintu mobil, seorang wanita penjual jamu yang terjebak hujan saat jalan pulang dari keliling jualan jamu . langsung aku persilahkan masuk dari pintu depan, dan aku bantu meletakan keranjang jamunya di kursi belakang.

“ maaf pak merepotkan” wanita itu membuka percakapan sesaat setelah mobilku mulai kembali berjalan.
“ ga apa-apa bu... dari pada kehujanan, nanti malah ibu sakit” jawabku ringan..
aku melirik wanita disampingku.. kulihat dia basah kuyup karena beberapa saat terguyur hujan.
Maka aku tawarkan untuk menggunakan handuk yang kebetulan ada di jok belakangku..

Saat dia menggunakan handuk aku lirik dia menguaraikan rambutnya, wah ternyata wanita ini cantik juga saat rambutnya terurai, ditambah dengan pakaian yang dia kenakan yang mirip kebaya jawa yang membuat kesan seksi dan eksotis khas penjual jamu.
Kami pun ngobrol banyak, mulai dari tempat dia keliling, varian jamu yang di jual hingga keluarganya.
Dari obrolan, aku tahu kalau dia seorang janda yang di tinggal mati suaminya. Dia memiliki anak satu mnamun sekarang di titipkan pada neneknya di jawa dan dia sekarang berjualan jamu.
Kalau kutaksir umurnya sekitar 35 an, wajahnya manis walaupun kulitnya agak hitam. Bodinya kencang mungkin karena sering berjalan dan menggendong beban, sangat menarik karena tidak terlau kurus juga tidakterlalu  gemuk.

Sampai pada persimpangan jalan dia bilang untuk setop, aku tanya rumahnya masih masuk ke jalan kecil yang hanya muat 1 mobil, aku menawarkan untuk mengantarnya.. dari raut mukanya agak ragu namun sepertinya dia meneyetujui. Ahirnya aku luncurkan mobilku untuk mengantar sampai kerumahnya.
Tidak seberapa jauh, kami telah berhenti di rumahnya... sebuah rumah papan mungil namun cukup rapi, dengan lantai semen. Dia mempersilahkan aku untuk mampir karena sudah mengantarnya dan menjanjikan untuk membuatkanku jamu.
Akupun mampir ke rumahnya, di ruang tamu aku menunggu dia yang sepertinya masih berganti pakaian, beberapa saat kemuda dia keluar sambil membawa gelas yang berisi jamu.
Tanpa ku tanya jamu apa, langsung aku minum saja sampai habis jamu yang dia buat.. dan kemudian dia menuangkan air jahe hanygat di gelas bekas jamu yang kuminum yang langsung aku tenggak habis.

“ Jamu apa tadi yu?, pait banget?” tanyaku
“ jamu kuat mas... biar nanti pas nyampai rumah langsung gulat sama istri, kebetulan itu ampasnya jadi 2 kali lebih mustajab reaksinya” jawabnya
“Waduh... gemana ini, aku masih lajang yu... aku di palembang ga ada siapa-siapa.. gemana ini”kataku..
“ ealah... kenapa ga ngomong kalau masih lajang, ya terserah masnya nanti lah.. mau di lampiasin sama siapa”

tiba-tiba lampu mati, hari yang mulai gelap, dan hujan yang makin lebat membuat suasana semakin gulita.

Setelah mengambil lilin, kamipun melanjutkan ngobrol.
karena suasana cukup romantis, walau kami duduk bersebrangan tapi cahaya lilin membuat kami bisa fokus untuk melihat muka masing-masing.
Setelah ngobrol cukup lama, aku lihat dia sering memandang wajahku cukup dalam, namun dia akan buang muka saat aku menatapnya.

Sepertinya jamu yang ku minum mulai bereaksi, tiba-tiba otongku menegeras tanpa sebab. Sampai terasa sakit di dalam celana.
Aku bermaksud untuk pamitan karena merasa ga enak denga tetangga sekitar yang pastinya akan merasa curiga ada mobil parkir di rumah janda.

Namun menurutnya yag ahirnya aku tahu namanya mbak surti.. ga apa, karena hujan lebat tetangganya ga bakal peduli  ada mobil disitu.

Hujan memang kian lebat, karena otongku sering menggeliat maka aku berusaha untuk merilekskan
 badan dengan berpura pura berdiri dan me mutar mutar pinggang.
“ kenapa mas badanya pegal” tanya mba surti, aku tahu namanya saat ngobrol tadi
“iya nich, rencananya sampai palembang mo langsung pijat.. tapi kayaknya ga kekejar nich”
“Mau aku pijat?” tanya surti
“Emang mba bisa?” tanyaku balik
“Biasanya si aku ngurut ibu-ibu kalau pas ada yang butuh aku dipanggil, kalau bapak-bapak belum pernah. Tapi mungkin sama lah “ mba surti meakinkan.

Ahirnya aku menyetujui, untuk di pijat saja pundaknya sambil tetap duduk, dan mbak surti memijatnya dari belakang

Tiba-tiba petir menggelegar, dan hujanpun semakin deras bercampur angin, mbak surti menutup ruang tamu itu. Setelah beberapa saat di pijat, kepalaku mulai terasa pusing. Maka mbak surti menawariku untuk dipijar kepalanya. Ahirnya karena sofa yang sempit aku sengaja merebahkan kepalaku di pangkuan mba surti, ternyata mbak surti tidak menolak

Saat dipijat kepalanya, di atas mukaku jelas sekali menonjol dua bukit yang tertutup kebaya. Aku mulai berfikir bagaimana kalau hasratku ku lampiaskan saja sama mba surti...

Tak selang lama mbak surti mulai bersuara mesra, “mas... apa ga pingin di urut saja?”
“ diurut dimana mba?, kan sofanya sempit” kataku
“Yuk di kamar saja yang ada dipanya” ajak mba surti.

maka kamipun segera masuk ke kamar, kamarnya tidak begitu luas.. hanya ada satu dipan dengan kasur tradisional yang terbuat dari kapuk sepertinya karena terlihat walau tertutup sprei dengan rapi tapi terlihat tipis. Ada dua bantal dan dua guling di sana. Ranjang tertutup kelambu yang saat itu tirainya di buka menambah kesan romantis, dan hanya ada sebuah lemari pakaian dan meja rias sederhana.
Mba surti membantuku membuka kaos dan kaos dalamku, lalu dia menyuruhku membuka celana jeans yang ku pakai... karena aku tak biasa memakai ceana pendek maka aku saat itu hanya menggunakan celana dalam saja.
Lalu aku disuruhnya tengkurap, aroma jamu cukup menyengat saat aku mulai telungkup di kasur, mungkin karena setiap hari bergaul denga rempah, keringat mba surti pun bau jamu hingga kasurnyapun beraroma jamu.

Namun justru aroma itu menambah sensasi buatku.
Seluruh punggungku di urutnya dengan lotion, sampai saat turun kepinggang mbak surti bilang, apa mau ganti pakai celana pendeknya saja biar celana dalamku ga kotor.

Aku bilang, kalau ganti dengan celana dalam mbak surti aku mau. Ternyata mbak surti menganggap serius, maka aku di ambilkanya celana dalamnya yang tipis dan longgar.

Saat aku berganti celana dalam, burungku tegak.. sengaja aku menghadap ke mbak surti agar dia melihatnya. Ternyata mbak surti sudah sangat penasaran sampai ahirnya dia meraih batang penisku...
“ wah panjang banget mas......” sambil terus mengelus dan menatapi penisku.
“mbak surti mau?” tanyaku...
tanpa menjawab mbak surti langsung mengulum penisku dengan ganas, cukup lihai mbak surti dalam mengoral... sampai batang penisku semakin membesar dan mengkilap.

Setelah kurasa cukup, aku angkat tubuh mbak surti ke tempat tidur, aku baringkan dan segera aku lucuti seluruh pakaian kebayanya dan kain yang dipakainya untuk keliling jualan jamu.
Aku kaget, karena ternyata mbak surti tidak memakai BH dan yang lebih kaget lagi dia juga tidak memakai celana dalam sama selkali.

Mbak surti mengatakan, memang kalau jualan jamu syaratnya ga boleh pakai celana dalam. Hanya mengenakan kain jarit saja.
Tanpa peduli penjelasanya aku langsung menggarap payudaranya yang ternyata besar dan kencang, kalau tertutup kebaya tadi tidak terlihat sebesar ini.
Setelah mengulum dan meremas payudaranya secara bergantian, akupun langsung memindahkan seranganku ke perutnya, lalu aku jilati klitorisnya dan belahan vaginanya aku buka dan aku jilat sampai ke dalam.

mba surti mulai kelosotan, tanganya mulai menjambaki rambutku, pahanya terbuka lebar dan seprei kasurnyapun mulai berantakan.

Hujan diluar masih deras, walau tak sederas tadi namun karena rumah mbak surti menggunakan atap seng, hujan masih cukup berisik di telinga.
Aku mulai memainkan klitorisnya mengunakan jariku, lalu aku masukan ke vaginanya... mbak surti mulai seperti cacing kepanasan... mukaku di arahkanya ke payudaranya dan akupun semakin semangat mengocok memeknya.

Ahirnya tak selang lama tubuh mbak surti mengejang.... kurasakan vaginanya banjir oleh cairan kenikmatanya.
Aku bermaksud mengocok kembali memek mbak surti, namun saat itu mbak surti menarik tubuhku untuk menindihnya.

Maka akupun mengerti, kalau mbak surti ingin segera menuntaskan permainan ini.
Aku naik diatas tubuh mbak surti, penisku di bimbingnya ke mulut vagina mbak surti, di gesek-gesekanya ujung penisku ke bibir memeknya. Semakin lama semakin basah dan blesss penisku di masukanya kedalam vagina.

Mbak surti mengangkat pahanya dan menarik pantatku agar penisku dapat terbenam semuanya...
Memeknya yang mungkin lama tidak dimasuki penis, terasa sempit dan kesat... membuat penisku terasa hangat dan nikmat....

Aku tarik penisku setengah lalu aku masukan sampai mentok, lalu aku tarik lagi sampai ke kepala penisku saja yang berada di dalam memek, lalau aku masukan sampai setengah. Itu kulakukan secara berirama dengan tiga kali setengah dan satu kali aku hentakan kedalam... dan ternyata mbak surti merasakan kenikmatan yang sangat...
“ ah mas.... enak sekali mas....... ah... ah .. ah..”
mulut mbak surti merancau tak karuan... hinnga ahirnya kakainya di silang ke pinggangku dan pantatu di tariknya untuk mengehentak lebih dalam, aku menegerti.. sepertinya mbak surti sudah hampir orgasme, aku sengaja menghentakan penisku cukup keras agar ada sensasi lebih, bahkan sesekali aku selingi dengan menekan kuat-kuat sampai kepala penisku mennekan mulut rahimnya..

Sekitar sepuluh kali aku sentakan penisku kuat-kuat, ternyata aku tak kuasa menahan semburan spermaku yang meman sudah berkedut dan siap menyembur... maka sekali hentak sepermaku muncrat didalam vagina mbak surti, dan ternyata saat bersamaan mbak surtipun mengalami orgasme .

Smbil mencengkeram punggung dan menggigit pundaku mbak surti mengejang.... menahan penisku lebih dalam dan ahirnya terhempas lagi ke kasur.
Mbak surti terlihat cukup puas, sampai ahirnya tiba-tiba lampu menyala... dan hujan diluar terdengar sudah mulai mereda, hanya tinggal gerimis saja.

Akupun segera mengenakan celana dalam yang tadi di pinjamkan mbak surti, aku sengaja ingin memakainya dan ingin meninggalkan celana dalamku sebagai kenang-kenangan.
Aku segera keluar kamar dan kekamar mandi, untuk membersihkan diri.
Saat selesai mandi aku mendengar seperti suara orang ngobrol di ruang tamu, aku keluar dan ternyata ada dua wanita  yang satu tua dan satunya muda.

Aku langsung menyalami mereka mengatakan numpang mandi, karena tadi kehujanan,

Akupun segera berpamitan, setelah aku letakan no hp dan sejumlah uang sebagai tanda terimakasihku di dekat kompor dapur.

Lalu akupun melanjutkan perjalanan panjang menuju palembang .

0 komentar:

Cerita sex Dewasa VAGINA PERAWAN GADIS SALON JMB



VAGINA PERAWAN GADIS SALON

Siang ini sangat terik, aku yang baru saja pulang dari survey lapangan proyek pembangunan sebuah pusat perbelanjaan di kota J yang berada di belahan tengah sumatera ini memang terkenal dengan terik mataharinya yang cukup membuat keringat meeleh.


Setelah semua data selesai di rekap, dan semua laporan ku tandatangani, aku segera meluncurkan mobilku ke arah kota. Aku berniat mencari tempat untuk mendinginkan kepalaku yang mulai terasa gatal oleh keringat ini.

Maka setelah masuk ke pusat perekonomian di kota J ini pilihanku jatuh ke sebuah salon yang cukup tertutup dan disana tertulis Pria dan Wanita. Aku berniat creambath agar kepalaku dingin dan tak gatal lagi.


Namaku Aris, kepala cabang sebuah perusahaan multinasional yang ditempatkan di kota J, aku masih lajang dan umurku masih 27 an. Tinggi wajar, muka wajar, badan proporsional.
Saat aku masuk salon, aku disambut oleh wanita setengah tua etnis cina yang ku tebak adalah pemilik salon. “mau apa mas?, potong, creambath atau lulur, atau facial? Tanyanya semangat

“ Cuci rambut ce” kataku singkat...

Lalu aku di antarnya ke tempat cuci rambut dan di sebelah ada beberapa karyawatisalon yang melihatiku penasaran sepertinya karena aku baru sekali ini masuk kesini.

Tiba2 pemilik salon ini memanggil “ Tari... creambath mas ini tar....”
maka datanglah menghampiriku, cewek lugu yang ku kira masih usia SMA atau sekitar 16 atau 17 tahunan.

Tanpa bicara apa-apa dia langsung menyabuni rambutku dengan segala rangkaianya. Dikeringkan, di cuci dikeringkan dan seterusnya. Sampai creambath ini selesai baru gadis yang bernama tari ini bicara. “ mas mau Lulur ga?” aku iyakan saja karena aku memang seharian belum mandi.

Aku di ajaknya ke lantai dua, melewati mata-mata para karyawati yang sepertinya lebih senior dari tari.
Setelah di lantai dua, aku dipersilahkan masuk kesebuah bilik yang di dalamnya terdapat kasur lantai dan sebuah bathtub di sampingnya.

Tari mempersilahkanku untuk memakai handuk dan melepas seluruh pakaian.

Tak ada yang istimewa sejauh ini, tari meluluri seluruh badanku dengan lulur seperti adonan tepung yang terasa cukup kasar di kulit, setelah semua badanku dilulurinya termasuk pantat kecuali burungku yang saat itu hanya mengenakan celana pendek longgar tanpa celana dalam.

Saat lulur mengering, tari kembali menggosoki seluruh tubuhku yang tertutup lulur, lulur rontok bersama seluruh daki di kulitku lalu kemudian aku disuruh mencopot celana dan berendam di bathtub yag telah terisi air hangat.


Semua badanku disabuni, termasuk juga burungku yang kemudian mengeras, terlihat sangat canggung tari melakukan semuanya hingga aku beranikan bertanya, “ tar kamu udah berapa lama kerja disini”

dia menjawab “ baru tiga hari mas, ini juga karena terpaksa”

Lalu obrolan kami mulai mencair, sampai ahirnya badanku dibilasnya dengan air bersih dan dikeringkan.
ahirnya taripun duduk di sampingku, “mas bisa tolong aku ga?”
“Tolong apa tar?”. Tanyaku
“Aku lagi butuh uang, mau ga mas beli keperawananku” jawabnya
aku kaget, tak kusangka tari akan bicara begitu, aku sebenarnya tidak berfikir apalagi berniat membelinya. Tapi aku penasaran  berapa gadis ini menawarkan keperawanannya.

setelah ku tanya detail, ternyata dia terlilit hutang karena merusak Smartphon kawanya seharga 4 juta, sedang dia hanya memiliki uang 1 juta saja itupun uang tabungan. Dia tunjukan isi dompetnya dan smartphon pecah yang dia akui sebagai milik kawanya.

aku masih curiga, apa dia benar-benar apa hanya mengarang cerita saja.
Ahirnya aku coba nego, kalau aku tak berani membayarnya 5 juta seperti permintaanya. Dia masih merengek... mas beraninya berapa?, kubilang aku hanya berani 2 setengah juta itupun sebenarnya berat kataku. Lalu dia memberanikan diri membuka celananya dan berbaring di kasur, mas boleh cek aku masih virgin mas...

Aku iseng melihat ke vaginanya, vagina yang baru tumbuh bulu haus dan memang terlihat masih rapat. Tari menyibak bibir vaginaya dan di dalamnya akulihat lobangnya masih tertutup selaput dara tipis yang hanya menyisakan lobang sangat kecil.

Aku agak mulai tertarik, weh benar juga dia masih perawan... kalau 5 juta sebenarnya sangat murah karena aku dengar, harga perawan bisa sampai 10 bahkan 50 jutaan.

Aku mulai memasang trik, “ tar aku tak punya uang sampai segitu, tapi kalau 2,5 juta aku ada. Aku sebenarnya tidak begitu tertarik dengan keperawanan tapi bila kamu memang butuh uang aku hanya berani segitu”

Tari hanya terdiam, “atau kamu tawarkan saja ke orang lain tar” tambahku
“ aku takut mas, kalau mas orangnya lembut... masih muda, dan lumayan ganteng juga bersih” katanya.

“apa ga bisa tambah mas, kalau segitu belum cukup, masih kurang 500.” Tambahnya...
aku semakin yakin kalau dia memang lagi butuh uang.
Aku diam beberapa saat sampai ahirnya, “ok 3 juta ya... gemana?”
“Dimana mas?, apa mau disini” tanya tari
aku menawarkanya untuk datang ke hotel PR sore ini jam 5 sepulang dia dari salon. Maka kami menyepakati.

Sepulang dari salon, aku lihat masih jam 3, aku meluncur ke sebuah hotel, lalu aku check in di kamar yang cukup bagus dan romantis. Aku sengaja memesan kamar model untuk pengantin baru.
setelah sampai dikamar, aku langsung rebahan... ku lihat disekeliling nuansanya memang seperti kamar pengantin, dengan warna romantis, kain-kain lembut, dan juga hiasan sperti kelambu menambah kesan romantis dan membangkitkan gairah.
Aku sempatkan SMS nama hotel, nomor kamar dan alamatnya. Tari membalas, ok

Aku tersentak saat pintu kamar ada yang mengetuk.

Saat aku buka ternyata tari yang datang dengan baju cukup sexi.
Kutengok jam di hp ku menunjukan jam 18.00 wib. Telat 1 jam mungkin tari pakai untuk mandi dan dandan.
karena suasna yang romantis, aku berfikir ulang bagaimana caranya agar malam ini aku bisa bersama tari semalaman. Suasana sangat disayangkan apabila hanya dihabiskan sendiri semalaman dikamar ini.

Maka aku mencoba menaarkan ke tari untuk menginap saja malam ini, dengan alasan aku tak mau terburu-buru karena takut dia sakit, dan sebagai imbalanya aku akan menambahkan 1 juta lagi.. sepertinya tari tak keberatan.
Maka langsung aku ajak tari untuk tiduran di ranjang, ku suruh dia menghadap membelakangiku agar bisa menonton TV dan aku memeluknya dari belakang.

Tari terlihat sangat canggung, maka aku ingin membuatnya larut dan mencair. Aku peluk tari dan aku belai lembut... dan aku mencoba merangsang tari mulai dari leher, telinga dan menciumi tengkuknya.

Tari masih canggung sampai beberapa saat kemudian, tari terlihat mulai menikmati.
Saat itulah aku balik tubuhnya menghadap padaku, aku kecup keningnya, lalu turun kebibirnya...
Awalnya dia hanya diam saja saat ku kulum bibirnya, namun saat aku mulai memainkan lidahku di mulutnya dia mulai beraksi...
bibirya mulai memberikan perlawanan walau masih pelan.

Aku mulai merangsang payudaranya yang masih kecil, mamun putngnya cukup menonjol....
aku bua kaosnya, BH nya dan kuhisap kuat2 putingnya...

Tari menggelepar kegelian,dan lama-lama mendesis tanda dia mulai merasa keenakan.
Seranganku aku lancarkan secara terus menerus, jilatanku turun ke perutnya, lalu aku lepas seluruh pakaian bawahnya termasuk celana dalamnya.

Aku tatap wajah tari yang saat itu terbaring telanjang bulat di hadapanku, ada rasa kasian padanya. Lalu aku kembali mencium keningnya dan menanyakan. “tar... kamu bebnar2 sudah nekat melakukan semua ini?” dia membuka matanya dan mengangguk/
“apa kira-kira kamu ga nyesal?” tanyaku kembali...
“ga apa-apa mas... aku menikmati kok. Lakukan aja mas apa yang mas mau.., aku sukasama mas, lembut dan ganteng” jawabnya..

Setelah memastikan maka serangan aku lanjutkan ke pangkal pahanya, aku ingin memastikan apa yang kulihat tadi siang, aku buka bibir vagina tari dan kulihat benar, vaginanya masih virgin. Langsung saja aku kecup dan aku jilat seluruh bibir vagina perawan ini,  tari mulai menggelinjang apalagi saat bibirku mulai menyentuh clitorisnay... tari mengejan...menahan geli dan nikmat.

Aku mainkan lidahku di vagina tari, aku jilat, ku kecup lembut sampai kecupan berbunyi, bahkan terkadang lidahku ku tusukan ke lobang vagina tari.
Tari merintih, suaranya memenuhi ruangan... aku semakin semangat saja hingga clitoris tari mejadi pusat serangan bibirku.

Tak selang lama tari mengejan... dan dia menjerit.... tanda dia mencapai puncak orgasme....
Seluruh cairan dalam vaginanya aku jilat habis.

Tari terlihat malu bercampur bahagia, mungkin baru pertamakali dia merasakan orgasme semacam ini.
Aku tak menyia-nyiakan waktu... mumpung tari masih  menikmati sisa-sisa keniknatan, aku segera melepas seluruh pakaianku termasuk celana dalamku.aku sengaja memposisikan posisi 69dengan mengangkangi tari, penisku ku masukan ke mulut tari dan mulutku ada di selakangan tari. Aku naik turunkan penisku di mulut tari yang mungkin baru kali pertama mengulum penis ini terbukti dari caranya menghisap yang masih sesekali terkena gigi.

Aku sengaja menekan lembut penisku ke mulut tari, karena nikmat tak ayal penisku terkadang sampai masuk ke kerongkongan tari, sensasinya cukup luar biasa.
Setelah kurasa tari mulai terangsang lagi aku sengaja menyuruh tari untuk di atas, mengangkangi penisku.

Tari mulai menggesek-gesekan penisku di mulut vaginanya, mencoba menekan... penisku semakin kencang mengeras, awalnya kepalanya sakjayang mulai masuk ke belahan vagina tari sampai ahirnya seperti ada kulit yang menghalangi kepala penisku untuk masuk, tari beberapa kali mencoba memaksa menekan namun karena terasa cukup keras dan juga takut sakit maka hanya kepala penisku saja yang berhasil masuk.

Aku minta pada tari untuk menahanya jangan di copot, aku mulai meremas payudara tari dan mencium bibir tari.
Cengkraman vagina tari benar-benar kuat, penisku sampai terasa ngilu... karena terangsang kurasakan vagina tari mulai basah kembali dan sedikit becek dan licin.. maka sambil merangsang payudara dan mulut tari aku mencoba untuk menekan sedikit demi sedikit sambil menarik pantat tari agar menekan vaginanya ke penisku sampai ahirnya crak... terasa seperti ada yang sobek dan penisku mulai amblas masuk ke vagina tari...

Luar biasa sensasinya,sempit, hangat, mencengkeram dan enak...
setelah beberapa saat diam aku mulai mencoba mengerakan pantat tari naik turun dan tari mulai menggila, sepertinya titik rangsangnya sudah mulai tersentuh sampai pada ahirnya tari mengejang dan cairan hangat menyiram jariku...
Tari orgasme yang kedua kalinya...

BERSAMBUNG

1 komentar:

Cerita SEX dewasa, Orgasme Sampai Muncrat

Olif, Mahasiswi Virgin Orgasme Sampai Muncrat


Tinggal dikota kecil, jauh dari keluarga dan sahabat membuatku merasa sangat kesepian terutama saat ahir pekan tiba. 


Kerap kali ahir pekan ini aku habiskan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di kota yang eksotis ini, ya kota J merupakan kota tua yang masih bernuansa tradisional walaupun modernisasi mulai menggerogoti di beberapa titik kota.

Dua bulan aku di pindah tugaskan oleh kantor pusat di Tanggerang, untuk memantau perkembangan kantor cabang yang baru di bangun 2 bulan lalu ini.

Namaku Aris, 27 tahun. Pria lajang dengan tampang biasa saja, tinggi normal, badan proporsional. Untuk beberapa cewek yang dekat denganku bila kutanya keadaanku buat mereka tak ada masalah. Cukup tidak terlalu berlebihan dan juga tidak memalukan. Hehehe

Biasanya sabtu sore begini aku habiskan waktuku di tempat pijat atau salon, baik itu pijat refleksi yang benar-benar hanya melayani pijat saja, atau tempat pijat plus. Plus apa saja asal kita siap membayarnya.


Namun biarpun aku suka berkunjung ketempat begituan, sampai saat ini keperjakaanku (dalam arti hubungan sex langsung) masih terjaga. Sejauh ini para wanita yang menyentuhku hanya sebatas handjob atau aku mengeluarkan di payudara mereka. Blowjob saja aku sangat menghindari.. walau terkadang tanpa sadar mereka sempat menjilat atau beberapa kali telah berhasil memasukan kepala penisku ke mulut mereka. Namun saat itu aku segera meminta mereka menghentikanya.

Selain karena takut penyakit, aku merasa bahwa aku harus menjaga kesucianku untuk istriku nanti, walau tak murni asal masih tetap bersih tidak kotor apalagi penyakitan.

Aku tak sudi keperjakaanku di renggut oleh lobang vagia yang tak tau sudah berapa puluh penis yang mengobok-oboknya. Maka biasanya untuk keisenganku aku hanya memainkan jariku di vagina mereka sampai mereka puas. Dan kemudian aku menyeburkan spermaku di payudara mereka tanpa memasukan penisku ke lobang kotor itu.

Namun sore ini aku tak begitu berselera dengan kebiasaanku itu, aku merasa bahwa pelampiasan hasratku hanya sebatas profesionalisme mereka. Walau mereka terkadang  melayaniku penuh dengan kasih sayang namun itu mungkin mereka berikan kepada siapa saja yang sanggup membayar mereka.
Aku memutar mobilku ke parkiran resto cepat saji yang has menyediakan Pizza, namun karena parkiran penuh aku diarahkan untuk parkir di lahan parkir resto yang ada di sebelahnya yang kebetulan kosong.


Awalnya maksud hati igin ke resto pizza namun karena parkir di resto lain maka ada rasa ga enak kalau hanya numpang parkir saja, maka biarlah aku memutuskan untuk sekedar minum atau makan ringan di resto yang memang menyediakan masakan khas Jakarta.

Saat aku masuk masih sepi, tapi tak selang lama aku minum kopi datang puluhan motor yang sepertinya rombongan mahasiswa mau mengadakan acara makan-makan. 


Hampir semua kursi terisi, hanya sisa satu kursi yang ada di depan mejaku. Entah memang takdir atau 

kebetulan ada seorang mahasiswi berjilbab yang memang sedari tadi masuk telah mencuri perhatianku tidak mendapatkan tempat duduk.aku sebenarnya sedikit berharap dia mau duduk bersamaku namun aku merasa canggung menawarkanya tempat duduk. Maka aku menawarkan kursiku untuk di bawanya saja ke meja rombongan mereka. Bahkan kursipun aku antar kesana.

Namun karena meja terlalu sempit dan satu meja maksimal hanya untuk dua orang maka makanan tidak muat untuk bertiga maka cewek tadi minta izin untuk duduk semeja denganku.

“Bang, maaf apa ga ada yang nempatin?” tanya cewek itu segen
“Ngga, ga papa kalau ada ga mungkin kan kursinya aku tawarin tadi” jawabku

Ahirnya walau dengan canggung dan terpaksa cewek itu makan di depanku, agar tak malu maka aku pura2 sibuk dengan HP ku. Aku sengaja tak banyak tanya supaya dia merasa nyaman.. walau aku sebenernya sering curi2 pandang walau sekedar melirik.
Setelah selesai makan, aku yang sedari tadi memang memesan es cream diantantar oleh pelayan, tapi sebenarnya aku awalnya hanya memesan satu namun lagi2 kebetulan pelayan itu mengantarkan 2 porsi es cram.
“pesan 2 porsi kan pak?” kata pelayan itu..
“sebenernya 1 tapi sudah lah pas buat mba ini sekalian “ kataku.
Cewek dideanku pura2 menolak tapi aku meyakinkanya, kataku kasian sudah di buat.
Entah terpaksa atau senang, ahirnya dia mau menyantapnya... bahkan ahirnya kami jadi mencair dan tak canggung lagi.

Dari obrolan kami, ahirnya dia memberitahu namanya olif, mahasiswi semester 5 di sebuah perguruan tinggi negeri di kota J.
kami ngobrol cukup panjang lebar, namun aku tak berani menanyakan kontak apapun darinya. Aku berfikir nanti ku cari di sosmednya pasti ketemu.

Setelah acara kawan-kawanya selesai dia pun pamit, untuk kembali ke kost. Karena dia datang membonceng kawanya maka diapun mencarikawan yang di boncengnya tadi.

Lagi-lagi semua serba kebetulan. Setelah aku selesai membayar, walau ada rasa sedikit kecewa karena perkenalanku hanya sebatas obrolan saja, walau dia terlihat respek namun sepertinya dia sangat menjaga wibawa dan keanggunanya.

Aku menyangka mereka sudah pergi semua sampai aku ke tempat parkir, ternyata masih ada dua motor yang masih ada di samping motorku. Dan ternyata olif pun masih ada disitu.

Karena kebetulan bersampingan dengan mobilku aku mencoba untuk bertanya tanpa ada gelagat mendekati oif, “kenapa ???” kataku kepada mereka secara umum.

Kawanya yang juga sama2 berjilbab besar ada yang menjawab. “Anu bang.. kempet. Kayaknya banya bocor”

setelah beberapa saat, ahirnya diputuskan motor itu tak bisa untuk berboncengan.
Maka, untuk menjaga wibawanya aku menawarkan untuk mengantar olif dengan kawan satunya yang juga membonceng motor yang tidak kempet. Namun karena beda arah dia menolak. Awalnya aku agak takut olip menolak namun sepertinya dia mulai agak percaya terhadapku hingga ahirnya dia mau menumpang di mobilku.

Aku sengaja membuka lebar kaca2 yang ada di mobilku saat mengantar olif. Sambil jalan kami ngobrol ngalor ngidul lagi melanjutkan obrolan tadi yang terpotong. Saat sudah hampir masuk ke gerbang perumahan tempat olif ngekost, hp olif berdering dan mengabarkan bahwa kawanya yang tadi bonceng berdua mengalami kecelakaan. Maka tanpa diminta aku langsung putar mobil dan minta alamat tempat mereka kecelakaan.

Sampai ditempat kejadian, ternyata orang2 di sekitar mengatakan mereka sudah dibawa ke Rumah Sakit dan motor sudah diamankan di kantor polisi.

Maka akupun bertanya pada olif, gemana apa mau langsung ke rumahsakit atau mau langsung pulang ke kost. Olif minta diantar langsung ke rumahsakit.

Sesampainya di rumahsakit olif langsung berlari ke UGD aku hanya memantaunya dari jauh siap siaga siapa tahu dia butuh bantuan. Aku sedikit berfikir... ada apa denganku. Kenapa aku repot amat mengantarkan olif yang baru aja aku kenal. Ah tapi tak apa... toh malem mingguku jadi seru.. dan yang terpenting aku jadi mendapat kawan-kawan baru dan pasti perbuatanku ini akan membuka akses untuk mengenal mereka.

Cukup lama Olif di UGD sampai beberapa kawannya datang dan ahirnya kawanya yang kecelakaan tadi di bawa ke ruang opname. Ahirnya olif keluar menemuku...

“ bang makasih ya udah nunggu... maaf ngerepotin”
“ ah ga apa lif, semua kan memang sudah seharusnya saling membantu, gemana keadaanya?”
Setelah olif bercerita keadaan kawanya yang lukanya cukup serius, bahkan yang membonceng mengalami patah tangan, maka aku kembali bertanya “ gemana olif mau pulang apa nunggu di sini ?” olifpun mengatakan kalau dia mau nunggu kawanya sampai keluarganya datang.

Maka aku antar olif ke ruang opname, olif masuk ke ruangan sedang aku nunggu di luar...
aku sempat tertidur, saat ada tangan halus menyentuh pipiku... “bang...”
Aku terbangun dan kulihat olif dan ada beberapa orang di belakangnya ..
“ gemana?” tanyaku...
“ini orang tuanya saskia sudah datang” jawab olif
maka setelah berpamitan dengan orang tua Saskia yang berulang kali berterimakasih maka aku langsung mengikuti olif yang berjalan ke arah parkiran.

Sesampainya di parkiran, langsungsaja aku tancap gas mengantar olif ke kost, olif beberapa kali
 menguap dan terlehat sangat lelah.

Sesampainya di kost, olif langsung menyalamiku bahkan mencium tanganku dengan pipinya.. tak tau apa sengaja apa tidak sadar karena terlalu lelah... dia berterimakasih dan bilang sampai jumpa. Sempat terfikir untuk  minta nomor hapenya, namun ada rasa segan. Sampai aku berfikir yang penting sudah tau kostnya inih...

Baru saja aku menstater mobilku, olif tiba2 nongol dari gerbang...
aku kembali keluar menanyakan “ada apa lif”
“ kunci kamarku dibawa kawan sekamarnya yang berangkat stadytour jam 3 pagi tadi ke Jogja”
“waduh... emang kamu ga pegang kunci cadangan” tanyaku...
“smalam tertinggal di dalam... saat berangkat ke resto”

Lama kami saling terdiam, kulihat jam tangan sudah menunjukan jam 4 pagi.. aku ga enak dengan tetangga kalau harus menemani olif disitu.

Ahirnya aku tawarkan ke olif, : “maaf lif... kalau kamu ga keberatan... kamu istirahat aja di kosku. Biar aku nanti istirahat di mobil, besok pagi aku antar lagi kamu kesini”. Kataku menawarkan

Tanpa menjaab, olif langsung naik ke mobil dan mencoba menelfon kawanya, walau belum mendapat jawaban aku langsung memutar mobilku menuju kosku. Sesampainya di kost.. aku langsung memberikan kunci pada olif. Karena kosku adalah perumahan dengan satu pintu, satu kamar dan satu ruang tamu serta dapur layaknya apartemen namun lebih mirip paviliun maka aku langsung memasukan mobilku di garasi, olif langsung masuk ke kosku.. aku sengaja tak mematikan mobilku karena aku berniat tidur di mobil saja sambil tetap menghidupkan AC mobil.

Tiba2 pintu mobil di ketuk, “Bang jangan bobok di mobil ah.. bahaya.. bobok di dalam saja. Aku percaya kok kalau abg orang baik”

Aku pun masuk, olif yang terlihat sudah sangat ngantuk  langsung naik ke tempat tidur dan membatasi tempat tidur dengan bantal guling seolah membelah tempat tidurku yang lebar menjadi dua bagian.

Aku masih ragu, tapi olif meyakinkan dengan menatakan bantalku dan juga sambil menepuk2nya.

akupun tak peduli lagi, disamping ngantuk... badankupun terasa sangat lelah karena kena angin malam.
Aku langsung tidur disamping olif, aku sempat mendengar olif menguncipintu dan mengatur suhu AC sampai aku benar2 terlelap.

Saat terbangun, aku melihat jam sudah menunjukan jam 10 pagi. Aku keluar kamar melihat olif sedang memasak air panas untuk memnyeduh susu. Dan kulihat dia sudah menyiapkan sarapan bubur ayam yang mungkin dibelinya di depan kostku tadi.
Setelah sarapan, akupun mandi. Aku lihat olif telah berganti pakaian dengan menggunakan kaosku yang berlengan panjang, sedang rok dan jilbabnya masih menggunakan miliknya semalam.

Aku menawarkanya untuk membeli baju di mall belakang komplek perumahan tempatku kost, olif hanya bilang nanti saja.

Minggu itu aku habiskan menonton tv bersama olif, wanita anggun berjilbab lebar yang baru aku kenal tanpa sengaja semalam, tidur bersama walau sebentar dan benar2 tidur. Bahkan kami belum benar2 mengenalnya secara mendalam bahkan nomor hp pun kami belum berani memintanya. Tapi kami telah berdua selama semalaman dan sekarang kami di dalam satu rumah seperti sepasang suami istri.

Olif tiba2 bangun dari duduknya dan menarik tanganku untuk duduk bersamanya di sofa,
“bang... aku mau tanya, kenapa abang  begitu percaya sama aku sampai abg berani mengajakku ke kost abg?”
“aku tak tau lif, sejak semalam.. semua terjadi begitu saja , hingga saat ini kita seolah di takdirkan untuk bersama2”
Lalu olif bercerita perihal dirinya yang sebenarnya sangat antipati terhadap laki2, bahkan sampai saat ini dia tak mau pacaran. Dia memilih berjilbab besar, dan tak mau pacaran sampai nanti ada yang menghitbah saat dia sudah siap.

Bapaknya seorang dokter spesialis  di Jakarta, ibunya adalah seoarang  pengusaha dan dsainer . dan dia adalah anak ke dua dari dua bersaudara, kakanya perempuan sudah berkeluarga dan seorang dokter umum.

Olif sendiri kuliah di fakultas kedokteran di kota ini, baru semester 5. Dia sebenarnya ada rumah di sebelah kampus dan juga mobil. Namun dia tak memberitahukanya pada kawan-kawanya. Karena dia ingin terlihat sederhana di mata kawan-kawanya sehingga dia berkawan dengan teman sekampus yang benar-benar tulus.

Aku bertanya kenapa dia tak pulang saja kerumahnya, dia bilang kuncinya ada di dalam lemari di dalam kamar kost yang terkunci itu.

Aku yakin kalau olif berkata jujur, karena dari sikap dan kepercayaan dirinya aku yakin olif adalah mahasiswi yang tak seperti kawan-kawanya.
Olif memintaku menceritakan keadaanku, walau dia telah tau tempat kosku dan beberapa hal. Tapi dia ingin tahu mengapa aku di sini dan lain-lain..

Seterlah aku bercerita apa adanya tentang keadaanku, olif sepertinya mempercayaiku dan dia bilang kalau dia sangat nyaman bersamaku. Aku tidak genit, tidak lebai dan dia merasa aku ada perhatian lebih terhadapnya tapi aku tidak memaksakanya.
Sampai ahirnya kami sepakat untuk menjalin sebuah hubungan. Hubungan yang tak tau apa, tapi intinya kita saling menyayangi dan memberi dukungan.

Waktu sudah menunjukan jam 3 sore, aku mengantar olif untuk belanja pakaian. Dia beli 5 pasang baju lengkap juga dengan pakaian dalam. Aku bermaksud membayarinya tapi dia mencegahnya. Dia ingin membuktikan kalau dia bukan cewek miskin yang memperalat cowok. Aku mengiyakan saja..
Setelah jalan-jalan dan makan, serta membeli beberapa kaset film, kami pun pulang ke kostku.
setelah mandi, olif berganti baju dengan rok lebar model payung, kaos panjang tipis yang berpadu dengan jilbab lebar yang terkesan santai. Sambil menonton filem olif menyandarkan kepalanya ke pundaku yang aku respun dengan me lingkarkan tanganku di pundaknya sambil membelai kepalanya dari luar jilbab.

Tak lama aku rasakan tangan olif telah melingkar di perutku, dan kepalanya bersandar di dadaku... aku bertanya padanya... apa dia menginginkan aku menunjukan rasa sayang dan bahagiaku, atau aku harus menghargai dan menjaganya. Dia bilang dia merasa bahagia denganku dan dia ingin menjadi dirinya sendiri karena dia sesungguhnya sudah lelah selama ini bersikap seperti itu karena dia belum menemukan pria yang membuatnya nyaman.

Tapi sekarang dia merasa menemukanku, jadi dia ingin menjadiwanita seutuhnya. Yang membutuhkan kasih sayang dari pria yang mmenyayanginya.

Aku tatap matanya, kulihat kesungguhan dan ketulusan dari matanya. Maka tanpa di komando aku kecup bibirnya, dia memejamkan matanya....

Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik berseri, aku mengecup keningnya, kelopak matanya, hidungnya dan bibirnya lagi
Kami berpagutan cukup lama sampai tak terasa lidah kami sudah saling melilit, nafsu kami tiba-tiba bergelora, ciuman sayang  kini berubah bercampur nafsu birahi.
Aku mencoba membuka jilbab yang menutupi leher olif, mencium setiap jengkal lehernya dalam posisi duduk dan olif tidur di pangkuanku...

Olif sangat menikmati, tanganya meremas  jariku, saat aku mencium lehernya dia menuntun telapak tanganku  ke atas payudaranya yang masih tertutup baju dan BH.

lidahku terjulur kemulut olif, dan olif menghisapnya gemas... tanganku mulai ku susupkan ke dalam kaos olif dan mencoba masuk ke dalam BH olif, olif membiarkanya bahkan dia membantu melepas kaitan BH belakang hingga tanganku benar-benar leluasa meremas payudaranya.
Olif benar-benar hanyut, jilbabnya kini terlepas,  rambutnya yang panjang lurus terburai ke lantai, dadanya menyembul, aku menconba mengangkat kaosnya sampai ke leher dan membuka BH nya, tersembulah payudara yang sangat indah, puting kecil diatas payudara yang keras dan lancip, membuat siapasaja akan bernafsu untuk segera melumatnya.... ah..... aku langsung mengecup, menjilat dan memilin payudara olif secara lembut tapi kuat.
Olif seperti cacing kepanasan, tak selang lama olif menarik kepalaku untuk terus  melumat payudaranya dan tubuhnya mengejang... 

Mungkin ini yang disebut orgasme payudara, dimana wanita bisa mengalami orgasme di vaginanya hanya dari rangsangan  di payudaranya....

Olif mencengkeram  kepalaku dengan kuat, setelah  semua berahir, olif tetap memejamkan matanya sambil  menutup mukanya dengan lengan.
“Ris, aku ngompol “ bisik olif di sela-sela nafasnya yang masih tersengal.
Saat kulihat ke arah selakanganya memang benar, rok olif basah kuyup. Aku mencoba memegang  selakangan olif untuk memastikan. Olif menggelinjang kegelian dan segera berlari ke kamar mandi yang ada dalam kamarku.
Aku kembali fokus pada filem di TV, sekitar 30 menit olif tak kunjung keluar aku mencoba menengoknya ke kamar ternyata olif sedang tengkurap sambil tersedu seperti orang menangis.

Kuhampiri olif, aku mencoba membelai rambutnya yang ditutup jilbab namun tak rapi lagi, aku intip mukanya dari samping tapi dia malah memebenamkan matanya ke bantal.

“Sayang,  kenapa menangis?, apa kamu menyesali semuanya... aku melakukanya tulus padamu. Aku hanya ingin membuatmu bahagia” rayuanku secara intens ku lancarkan padanya.
Setelah beberapa saat, sepertinya tangisnya mulai mereda, aku mencoba memeluknya walaupun dia masih tetap membenamkan matanya di bantal, kubelai rambutnya dan kukecup telinganya. Aku berbisik “aku sayang padamu cantiku”
Olif mengangkat mukanya, dan langsung menyambar bibirku... semua berubah 360 derajat, kami bergulat panas dan mesra sekali. Kami tak lagi merasa canggung, ciumanku mulai merambah ke leher olif, bahkan kini kaos olif telah sampai di leher, aku coba untuk melepas jilbab olif tanpa ada penolakan, dan berlanjut ke  kaos olif. Kembali aku serang payudaranya yang memang benar-benar bagus lancip dan keras. Perutnya yang putih mulus seperti kulit paha membuatku semakin bernafsu menciuminya.
Olif kembali seperti cacing kepanasan, kemudian dia mencoba menahan kepalaku.  Au mencoba menatap mukanya, lalu dia bilang “ ris aku takut ngompol lagi” aku lihat dia telah berganti rok panjang motif bunga, lalu aku bilang padanya “ aku buka saja ya sayang?”  diluar dugaan dia ternyata mengangguk...
Tajusia-siakan kesempatan itu langsung aku buka seluruh apa yang menempel di pahanya,  aku kembali melahap payudaranya, turun keperutnya, dan kali ini lidahkuku sapukan di pahanya. Olif menggelinjang kegelian namun saat dia mengangkat pantatnya itulah aku sengaja mengarahkan mulutku ke vaginanya hingga membuat olif kelojotan.

Ku jilat clitorisnya, olif makin membuka pahanya.. aku sapu seluruh belahan vaginanya dengan lidahku...
Luar biasa olif benar-benar lepas kendali, di pegangnya kepalaku, di jambaknya lembut rambutku dan di tekanya mukaku ke dalam selakanganya dan dia menjerit,  “ ris aku....” belum sempat dia melanjutkan kata-katanya tubuhnya mengejang dan luar biasa... cairan kenikmatan bercampur air seninya muncrat ke mukaku... awalnya tersendat sampai ahirnya benar-benar mengucur deras seperti orang tak kuasa menahan kencing. Olif melenguh dan badanya melengkung lalu terhempas. Muka dan sprei kasurku basah oleh cairan yang muncrat dari vagina olif. Tapi anehnya aroma cairan yang mengucur tadi tak berbau pesing, maka aku kembali menjilat clitoris olif, tak sampai lima menit, olif kembali orgasme
 dengan memuncratkan kembali cairan yang mirip air kencing , begitu berulang-ulang sampai hampir limakali dalam satu ronde.

Aku merasa kasihan pada olif, takut dia terkuras tenaganya.  Aku sengaja mengambil handuk dan menyeka kemaluan dan vagina oliv yang memerah, dan aku menutup sprei yang basah menggunakan badcover yang kebetulan ada di sebelah olif hingga pantat dan kaki olif tidak berada di atas kain basah.

Aku kembali memakaikan rok olif tanpa celana dalam.
Aku kembali memeluk olif, dan membelai rambutnya. Ku tutupi dadanya denga  kain lembut yang mirip jilbab panjang yang baru dia beli tadi siang hingga buah dadanya terlihat semakin menantang.

Aku sengaja tak melanjutkan permainan ini, karena tak mau olif nantinya akan menjauhiku. Maka aku tunjukan ketulusanku tanpa menuntut untuk di puaskan, biarlah dia saja yang puas saat ini, aku yakin pada saatnya nanti dia juga akan meminta untuk memuaskanku.

BERSAMBUNG

0 komentar:

Pijat Plus Di Kota Jambi "Nikmatnya Petik Mangga"

PIJAT PLUS DI KOTA JAMBI






Perkenalkan namaku Aris, 27 tahun, karyawan pada sebuah perusahaan multinasional. badanku standar, muka juga pas-pasan, pas ada yang di taksir pas ti dia mau... hehe

Hari ini aku pas dapet tugas dari kantor pusat di jakarta untuk survey lokasi pembangunan kantor cabang di jambi. 

karena hari minggu, aku sengaja berangkat dari bandara soekarno hatta pas penerbangan terahir, hingga aku mendarat di jambi pas pukul setengah tujuh malam.

Karena baru pertama kali ke jambi maka rasa asing dan bingung ada dalam benaku. namun dengan gaya orang yang biasa traveling aku mencoba bersikap biasa-biasa saja.

Aku keluar dari terminal kedatangan mengikuti para penumpang lain yang kebanyakan mereka sudah di jemput. sebenarnya jadwal keberangkatanku besok pagi dan sudah ada yang di tugaskan menjemput. namun aku sengaja mendahului agar bisa berpetualang dikota kecil yang cukup terkenal ini.

Saat aku keluar, ada beberapa taksi resmi yang menawarkan jasanya. tapi aku bergaya biasa saja sambil ngeloyor ke parkiran, bersikap seolah aku menuju kendaraan di tempat parkir. karena bandara yang tidak terlalu besar maka semua terlihat normal-normal saja. 

Sesampainya di parkiran cukup bingung juga, sampai ada seorang pria yang menegur. "kemano Pak?" teguran khas Jambi. "owh... anu pak.. lagi nunggu kawan" jawabku ngeles biar tidak terlihat orang asing.

Setelah lama mengobrol, maka orang tersebut yang ternyata adalah supir taksi bodong alias mobil pribadi yang dijadikan jasa angkutan menawarkan jasanya. " gemana kalau sayo antar saja pak?, daripada nungu kawan age lamo pulo".

Aku yang sebenarnya dari tadi nunggu seseorang yang fiktif, berputar otak juga. boleh lah pak kataku... maka langsung saja kami menaiki mobil mini bus putih miliknya.

Setelah berjalan beberapa saat bapak itu kembali bertanya, jadi tujuan kemano ni pak?.
" ah gini aja pak.. karena kebetulan badanku pegal.. kawan juga belum bisa dihubungi, tolong antar aku ketempat pijat saja" kataku ringan..

Bapak itu cukup lama terdiam, lalu bertanya lagi ; " mau yang pijat nian apa yang plus pak?"

" Yang pijatnya beneran pak, syukur ada plus-plusnya"  jawabku sambil tertawa nada bercanda

Ahirnya Supir yang ternyata namanya pak Anto itu mengantarkanku kesebuah tempat yang sepertinya terlihat seperti pasar karena penuh dengan ruko-ruko. Diujung lorong terlihat sebuah gedung penuh dengan lampu-lampu.
"nah disini pak tempatnya, pijitnya nian... masalah plus atau ga itu tergantung kita pak " kata pak anto.
" Ok Pak.." terimakasih. setelah kubayar pak Anto plus jasanya nunjukin tempat pijat. maka aku segera turun.
Sepintas gedung ini terlihat seperti gedung aula yang tertutup kalau dilihat dari luar, ada pintu utama yang berada di sebelah kanan gedung. begitu datang aku langsung di disambut oleh petugas keamanan berseragam khas satpam tempat hiburan malam.

Begitu masuk, ada beberapa karyawan yang sepertinya bertugas sebagai recepconis dan kasir menunjukanku ke tempat yang mirip bar, dengan beberapa bartender yang bertugas. 

Setelah memilih terapis yang mukanya bergantian di tunjukin melalui displai monitor komputer maka pilihanku jatuh pada mirna.

Kemudian diantarkanya aku ke ruang pijat di lamtai 2, kamarnya cukup luas dan sepertinya bekas ruang karaoke.


Beberapa saat, pintu kamar di ketok dan masuklah seorang cewek yang kutaksir umurnya 25 an. Sambil tersenyum mengulurkan tangan mengajak berkenalan.

“ Mirna”
“Aris” jawabku sambil menyambut tanganya yang cukup halus.
“ Minum apa bang ?, mineral apa teh”
“mineral aja jawabku”

“mirna mita rokok ya bang” kata mirna aku balas dengan senyum tanda setuju.
 Setelah minuman datang, kami ngobrol ngalor ngidul maka pijatpun dimulai.
 Seluruh pakaianku di buka temasuk celana dalem, hanya selembar handuk yang dipakai untuk menutup wilayah terlarangku.

Sambil telungkup, punggungku mulai di pijat oleh mirna, awalnya pijat-pijat ringan, lalu berlanjut dengan urut menggunakan lotion... tumayan berasa juga di badan yang lagi capek.

Selain pijatan yang enak, sesekali mirna menempelkan paha dan pantatnya yang hanya tertutup celana pendek mirip celana dalam tertutup rok mini tipis.


Berbagai metode pemijatan dilakukan, hingga payudara mirna menempel di kepala dan punggung. Sejauh ini aku hanya menjadi penikmat dan kuberikan keleluasaan sepenuhnya pada mirna.

Saat memijat pahaku, handuk di buka oleh mirna, hingga burungku yang mulai tegak terlihat jelas oleh mirna. Mirna hanya tersenyum sepertinya sudah biasa dia melihat model ginian.

Lumayan lama mirna menyusuri pahaku sampai ke kantung pelir yang sesekali tersenggol menambah sensasi kenikmatan yang luar biasa.

Setelah semua selaesai mirna menyuruhku untuk posisi mirip nungging, katanya mau petik mangga.
“bang sekarang tinggal PM ya”
“apa tu mir PM?”
“PM tu Petik Mangga bang, belum pernah ya?

Ternyata pahaku di taruhnya di paha mirna dengan posisiku seperti opang merangkak dan mirna duduk bersimpuh.

Setelah posisi di rasa nyaman, mirna mulai menggarap selakanganku dimulai dari belahan pantat, ke kantung pelir, lalu kepaha. Gerakan melingkar-lingkar menambah sensasi yang luar biasa sampai burungku tegak mengeras dan beberapa kali berkedut seperti orgasme namun tidak muncrat.

Aku mengerang enak, seperti wanita yang lagi di entot... sungguh istilah Petik Mangga ini cukup tepat, karena ternyata penisku di urut melingkar seperti orang memetik mangga. Seperti melayang dan benar-benar nikmat....

“bang... gemana masih tahan?, kalau ga tahan lambaikan tangan ya..”

“Ho ooooooh......” jawabku sambil menahan enak.

Mirna terus menggarap Penisku, di urut, dirangsang dan sesekali di pijat dan di selingi kocokan lembut. Membuat lahar di penisku minta keluar.

Namun aku belum mau semua ini berahir, maka aku minta istirahat sejenak sambil tidur terlentang, aku minta mirna melepas seluruh pakaiannya.

Walau aga pura-pura menolak, ahirnya mirna menyetujui membuka seluruh bajunya setelah deal dengan harga yang ku patok yaitu 500 ribu.

Aku sebenarnya sama sekali tak ingin memasukan penisku ke vagina sembarang orang, walau sudah senafsu apapun aku tetap berpikir rasional untuk tidak mempertaruhkan kesehatanku.

Maka setelah seluruh baju mirna dibuka dan dia mengira aku akan menyetubuhinya, mirna membaringkan tubuhnya dengan posisi ngangkang. Aku hanya tersenyum, mulai ku mainkan payudara mirna yang tidak begitu besar namun cukupmenantang, sambil tangan kananku turun menyusuri perut lalu turun ke paha mirna.
Mirna sepertinya bertanya-tanya, mengapa aku tidak langsung menyetubuhinya malah memainkan tanganku, namun lama kelamaan dia mulai menikmati rangsanganku.

Sampai pada saat aku masukan jariku di lobang vaginanya, mirna terlihat sangat menikmati, aku kocok pelan dengan sesekali memainkan jariku di klitorisnya.

Mirna mulai larut, nafasnya mulai terengah dan desahan-desahan mulai bertubi muncul dari bibir mungilnya.
“Bang..... ah.....bang..... ah....... yeah .... ah yeach...”

Aku sengaja memasukan jari tengahku lebih dalam dengan jari telunjuk dan manis tetap berada di luar dan aku tarik kearah atas agar tanganku mengenai clitoris dan tempat sensitiv lainya didalam vagina mirna.

Mirna melenguh tak karuan, mulutnya merancau.... jeritan dan desahan bercampur tanda mirna benar-benar menikmati permainan jariku...

Sampai pada ahirnya badan mirna bergetar dan mengejang, jariku terasa makin basah di banjiri cairan kenikmatan dari vagina mirna, mirna tersengal menahan sisa-sisa kenikmatan sampai ahirnya tersadar dan langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan vaginanya.

Setelah aku juga mencuci jariku yang berlumuran cairan dari vagina mirna, maka aku kembali duduk di sofa dalam ruang pijat itu.

Mirna yang saat itu haya mengenakan handuk, kembali mendekat dan menanyakan apa yang selanjutnya aku inginkan.

Kubilang, aku mau di petik mangga lagi tapi dari depan saja.
Maka dengan cekatan mirna langsung kembali menggarap penisku dari depan dengan posisi dia bersimpuh di lantai dan aku duduk di sofa.

di urutnya pangkal penisku, diputar dan di pijat lembut sampai penisku kembali tegak mengacung. Mirna terlihat menjulurkan lidahnya dan me mainkan topi penisku dengan lidahnya, namun saat dia ingin memasukanya ke mulutnya aku mencegahnya.

Setelah sekitar 30 menit penisku dimainkan, maka aku merasa sudah cukup dan ingin segera memuntahkan lahar panasku ke payu dara mirna, maka aku minta mirna menggesekan penisku di puting dan payudara mirna.

Di tempelkanya ujung penisku di puting mirna, di putarnya berlahan... mirna terlihat kembali terangsang, namun aku tak memperdulikanya.

rasa nikmat di ujung penisku semakin memuncak, apalagi saat mirna mengkombinasikan kocokan dan gesekan di antara penisku dan payudaranya serta remasan-remasan lembut di kantong pelirku.

Rasa nikmat bercamur geli semakin memaksaku untuk menuntaskan semuanya, aku semburkan seluruh isi penisku yang sedari tadi ingin menyembur, dan crot... semburan pertama begitu kencang dan kental, diiringi denyutan di penisku dan crot, crot, crot... tiga semburan berikutnya menuntaskan seluruh sperma yang ada di batang penisku..

Nikmat bercampur puas dan lelah, setelah di seka oleh mirna maka aku di ajaknya mandi.
Seperti anak kecil yang baru belajar mandi, maka seluruh tubuhku di sabuninya hingga bersih... dan di keringkan dengan handuk.


Tak selang beberapa lama, telfon duduk berbunyi, setelah mirna mengangkatnya maka aku segera pamit dan memberikan tips yang ku janjikan pada mirna untuk selanjutnya aku membayar jasa pijat dan tempat di recepsionis bawah tempat aku memilih terapis.

0 komentar:

CERITA DEWASA SEX DIKAMAR KOST

BAGIAN I : SEMUA CINTA SEMUA  BERAWAL




Aku kaget saat sebuah ciuman lembut mendarat di bibirku, setengah sadar terbangun dari tidur siangku aku mencoba untuk berpura-pura tidak terbangun.


Dari kelembutan, cara mengecup dan aroma nafasnya walaupun belum melihat wajahnya aku telah menebak jika bibir yang tengah mengulum bibirku adalah bibir Erna, gadis cantik satu angkatan di tempat aku kuliah.


Semakin lama ciuman dan kuluman bibir Erna semakin lekat dan semakin dalam, diselingi gerak lidah dan deru nafas yang kurasa semakin berat sebagai tanda Erna telah terbawa nafsu.

Jemari lembutnya  sesekali mengusap pipi , leher dan dadaku. Seteah lelah berpura-pura tidur aku mencoba untuk pura-pura terbangun.


Ternyata benar wajah manis dibalut kerudung bunga ada dihadapanku, wajah Erna yang  satu tahun   lalu entah bagaimana mulanya  akhirnya menyerahkan kesucianya padaku.

Semua berawal dari tempat rental komputer yang sebenarnya hanyalah sebuah PC pribadi yang kutaruh di kamarku namun banyak kawan-kawan yang memintaku untuk membantu mengedit dan mengeprintkan tugasnya padaku..



Saat aku mulai menginjak semester dua di sebuah universitas, karena uang saku yang diberikan oleh orangtua ku lebih dari cukup maka aku mencoba-coba untuk membeli komputer PC utuk menunjang  kuliahku terutama saat ada tugas makalah dari dosen.

Karena saat itu masih sangat jarang mahasiswa yang memiliki komputer PC , jangankan laptop seperti sekarang kebanyakan mahasiswa akan menggunakan jasa rental komputer untuk menyelesaikan tugas-tugas baik makalah, laporan sampai skripsi. Maka tak mengherankan banyak bermunculan usaha-usaha rental komputer di sekitar kampus.

Awalnya komputer PC miliku aku taruh di kamar kosku, setelah beberapa kawan satu angkatan di fakultas Ekonomi tau kalau aku memiliki komputer maka banyak kawan-kawan yang memintaku untuk sekedar mengedit ataupun minta tolong di printkan dengan imbalan akan memberikan ganti rugi seharga di rentalan pada umumnya, menurut mereka jika menitipkan kepadaku maka lebih leluasa serta praktis tidak perlu repot ke rental komputer yang biasanya antri.

Sebenarnya saat awal-awal aku merasa cukup terganggu dan sangat menyita waktu, namun aku melihat celah di sini, jika cowok yang meminta jasaku maka aku akan mengerjakan sendiri itupun jika hanya sekedar edit dan print tidak termasuk mengetik, namun tidak jarang mahasiswi yang biasanya minta di ketikan dan mereka hanya menyerahkan dalam tulisan tangan itu dikarenakan mereka masih minim sekali pengetahuanya pada MS Office atau belum lancar mengetik.

Untuk satu dua mahasiswi aku menerimanya, namun saat ada mahasiswi yang cantik seperti  erna memintaku untuk mengetikan tugas kelompoknya maka seribu satu alasan aku mencoba untuk ngeles, akhirnya dengan tanpa menimbulkan prasangka modus aku mempersilahkan jika dia memaksa maka silahkan ketik sendiri menggunakan komputer PC ku yang artinya dia harus mengerjakanya di kamarku.


Benar saja jam 5 sore Erna ditemani  kawan satu kamar di tempat kostnya yang kebetulan tidak terlalu jauh dari kosku datang dengan membawa beberapa buku tebal, mengetok pintu kamar kosku yang kebetulan memiliki  pintu yang langsung terhubung dengan halaman, karena kamar kosku lebih mirip seperti paviliun di samping rumah utama ibu kost. 


ibu kosku ini sebenarnya memiliki beberapa rumah yang memang di siapkan untuk di sewakan kepada para mahasiswa dengan kamar-kamar  yang berfariasi, namun aku kebetulan mendapatka kamar khusus di samping rumahnya yang dulunya adalah kamar anak gadisnya yang sekarang telah berkeluarga dan ikut suaminya di luar kota.

Kupersilahka Erna dan kawanya sinta masuk, karena sudah menjadi kebiasaan pada jam 5 sore aku sedang tidur sore untuk persiapan begadang pada malam  harinya.


Erna dan Sinta asik mengerjakan tugas di samping tempat tidurku yang sengaja kubuat lesehan dengan karpet yang tebal dan berbulu lembut, dan posisi komputerpun ku letakan di meja pendek sehingga bisa duduk di karpet tanpa kursi.


Azan magrib sayup kudengar, aku terbangun kulihat erna dan kawanya masih asik mengetik, sampai akhirnya terdengar seperti mau turun hujan. “Er gemana nich jemuranku belum kuangkat” kata sinta pada erna. “ ya udah sana kamu pulang aja dulu sekalian sholat aku lagi dapet, sekalian angkatin jemuranku juga ya” Jawab Erna.

Setelah selesai mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarku, terdengar hujan turun begitu lebat, aku melirik erna sedang asik mengetik dan kuperhatikan hasil ketikanya masih amburadul tanda erna belum mahir mengetik, maka aku lanjut sholat disamping erna, yang membuat erna beberapa kali melirik kearahku.

“Ris ternyata kamu rajin ya” kata erna setelah sesaat aku selesai sholat an aku hanya membalas dengan senyuman saja.

“gemana Er sudah selesai ketikanya?” basa-basi aku mulai membuka perbincangan.
“tolong edit dong Ris, aku ngetiknya amburadul” jawab Erna.
“belajarlah biar bisa, sini aku pandu” kataku dengan nada menggurui.

Setelah meneyelesaikan seluruh editan dan mengeprint, kulirik jam di dinding kamarku telah menunjukan pukul sebelas malam, sebenarnya hujan sudah berhenti namun tidak selang lama kembali hujan deras turun disertai petir dan kilat yang cukup mengerikan. 

Ernapun kebingungan, “aduh gemana nich???!!!”
“ya udah tunggu reda aja, biasanya hujan kalau lebat tidak lama” jawabku menghibur

Erna sepertinya cukup terhibur dengan kata-kataku yang aku sendiri tidak meyakininya.
Namun hujan kian deras dan sudah jam 12 malam, “ aduh sinta kok ga jemput ya, bawain payung kek, kamu ga ada payung Ris?” keluh erna. 

“ Aduh aku ga punya payung Er, cowok mana ada sich nyimpen payung” jawabku
“Gemana dong, aku ga enak juga nich kalau harus ketok-ketok dah malem gini dikira dari mana nanti” keluh erna bertubi-tubi.

“ Ya udah nanti aku anter, biar aku yang jelasin ke ibu kos kamu”

Akhirnya sambil menunggu hujan reda kami ngobrol, dari pengalaman pribadi sampai keluarga. Hujan taj kunjung reda sampai jam dua dini hari. 

“Gemana Ris, Ga enak nich aku pulangnya dah malem gini”
“Ya udah Er, kalau kamu percaya sama aku, tidur aja disini. Besok kamu pulang subuh atau sekalian aja aga siang biar bisa alasan kamu dari mana” kataku berpendapat
Erna diem sejenak “ Kamu ga ngapa-ngapain aku kan Ris?”

Aku senyum “ kalau mau ngapa-ngapain dah dari tadi kali” jawabku. “ udah tidurlah di kasurku, pakai selimutnya biar aku tidur di lantai”

“Kamu ga apa Ris tidur di lantai?” tanya Erna
“ Terus gemana masa aku tidur di kasur disamping kamu, kan malah kenapa-kenapa” jawabku.
“Kamu mau pakai bantal apa guling Ris?.” Tanya erna karena aku hanya punya satu bantal dan satu guling saja. 
“Udah Pakailah, biar aku tidur di lantai dan kepalaku di kasur, kan sama kaya pakai bantal” jawabku.

Malam itu aku pura-pura tidur, begitupun Erna aku dengar dari beberapa puluh kali dia membolak-balik bantal aku menebak kalau dia sama sekali tidak tidur hingga azan subuh.

Setelah azan subuh, aku sengaja bangun dan sholat subuh. Ernapun terbangun... dan melihati aku sholat. Setelah selesai sholat erna masih tetap berbaring dan menatapku.
“Ris....” erna memanggilku
aku hanya menoleh sambil memberi  isyarat bertanya
“Kamu bener-bener bisa di percaya ya, padahal kata kawan-kawan cowok kaya kamu itu pasti ga bisa dipercaya” kata Erna
“Terus..?” tanyaku
Lalu erna duduk “ Ris sebenernya aku udah lama lho merhatiin kamu”

Aku duduk disamping ena dan mendekatkan wajaku ke mukanya “ Naksir ya.....” godaku...

Erna mengangguk dan dan tersipu...
entah darimana awalnya tiba-tiba bibir kami telah berpagutan, awalnya hanya saling mengecup namun lama-kelamaan kami saling menghisap.

Ku pegang kepala Erna yang masih di bungkus jilbab biru itu dan aku mulai mencoba memasukan lidahku ke mulut erna, terlihat sekali erna baru pertamakali melakukan itu.... nafasnya ter engah dan dia sangat menikmatinya...

Aku cari kidahnya, dan ku pilin menggunakan lidahku.., dia mulai memeluku  dan akhirnya kami terguling di atas kasur dalam posisi berpelukan dan berpagutan.

Suasana pagi yang dingin sangat membawa suasana yang mendukung,  pelukan kami semakin erat. 
Aku belum berani meraba daerah-daerah sensitif Erna, hanya kurasakan payudara nya menyentuh dadaku walaupun masih terhalang baju dan bra, namun terasa empuk dan kenyal.

Aku mulai menyingkap jilbab yang menutup lehernya namun tidak sampai terlepas, kudaratkan bibirku di lehernya yang putih dan mulus, tercium aroma kkeringatnya yang bercampur parfum yang telah mulai memudar namun justru membuat burungku mengeras, aroma keringat wanita yang menimbulkan syahwatku bergelora.

Aku yang dari sore hanya menggunakan sarung dan celana dalam saja karena sudah menjadi kebiasaanku kalau tidur, bahkan aku sering hanya menggunakan sarung saja tanpa celana dalam, namun karena malam itu ada Erna aku berinisiatif untuk menggunakan celana dalam yang langsung aku pakai saat di kamar mandi.  


Erna mulai hanyut terbawa rasa nikmat dan suasana, dadanya yang menempel di dadaku kurasakan berdegup kencang tanda nafsunya mulai bergejolak. 


Ciumanku dileher Erna smakin liar, bahkan telinga erna yang  masih terhalang kerudungnya pun tak luput dari sasaran ciuman liarku. Kulihat Erna juga sangat menikmatinya.


Karena tubuh Erna yang sering menahan geli dan menggeliat, aku tanpa sadar telah menindih tubuh erna, dada kami berhimpitan dan tanpa sengaja kemaluan kamipun bersenggolan walauun masih tertutup sarung dan celana dalam. Erna yang saat itu mengenakan rok tipis halus panjang dengan motif bunga dan model payung itu membuat kemaluan kami tetap terasa saling menempel.


Sepertinya Erna merasa keenakan, ini terbukti saat aku menekan penisku yang masih tertutup celana dalam dan sarung ke vaginaya yang tertutup celana dalam dan rok tipis itu Erna merespun dengan cara mengangkat pinggulnya agar tekanan penisku semakin terasa di vaginanya...


Nafsuku yang mulai mengelora dan rasa nikmat di penisku yang  semakin mengeras, menambah keberanianku untuk terus menekan dan menggesekan penisku di vagina erna.

Erna mulai mendesah lirih, “ah....ah.... riz.... ehm..... ah...... “ desahan itulah yang kudengar dari bibir erna yang berada di depan telingaku.

Karena semakin bernafsu aku beranikan diri untuk menyingkap rok tipis Erna dan kulihat celana dalam tipis warna pink yang erna kenakan mulai basah.

Aku belum berani menyentuh daerah sensitif itu dengan tangan, dengan cekatan akupun menyingkap sarungku dan kembali menempelkan penisku yang saat ini hanya terhalang celana dalam kami berdua saja...


 Lendir di celana dalam erna dan juga celana dalamku yang mulai basah menambah kelembutan gesekan kemaluan kami, penisku beberapa kali berkedut  tanda ada yang ingin menyembur namun aku tahan. Sampai pada ahirnya erna membuka lebar2 kedua pahanya dan menarik pantatku dengan kedua tanganya untuk menekan lebih keras  penisku ke vaginaya maka aku ikuti kemauanya aku goyang dan gesekan naik turun dan kanan kiri sampai akhirnya kaki erna melingkar di pinggangku dan dia mencengkeram kepalaku , tubuhnya mengejang sambil  berteriak tertahan “ riz...... aku pipis....... ah.......aaaaahhhhhhhh.........”  saat bersamaan akupu tak lagi mampu menahan lahar dipenisku yang pada akhirnya berkedut dan menyembur di balik celana dalam yang kupakai....


Rasa nikmat yang luar biasa..., karena baru pertama kali inilah aku mendapatkan ejakulasi dengan cara menggesekan kemaluanku ke kemaluan wanita, karena biasanya hanya menggunakan tangan atau bantal guling.

Setelah smuanya reda, kembali aku tutup rok Erna, dan juga sarung yang aku kenakan. Walaupun terasa risik dan basah di sekujur penis aku tetap  menahanya karena Erna masih menengelamkan mukanya di dadaku sambil terisak menangis.

Berlahan aku angkat kepalanya agar mukanya bisa berhadapan dengan mukaku, kutatap matanya dan aku mencoba untuk mengajaknya tersenyum dan meyakinkan kepadanya kalau semuanya baik-baik saja.


“Riz, aku malu...”kata erna.
“Malu kenapa Er, aku tau kau sayang padaku dan akupun sayang padamu. Smua ini terjadi karena kita ingin menunjukan rasa sayang kita berdua dan kita berdua sudah saling memahami”. Jelasku.


Karena  Erna masih terdiam, maka aku terus meyakinkanya kalau smua itu bukan semata karena nafsu, tapi karena kami saling menyayangi. Jika karena nafsu atau aku ingin berbuat begitu padanya pasti telah aku lakukan pada saat aku tidur di sampingnya sejak semalam.


Sepertinya  Erna mulai yakin, dan meminta kepastian dari rasa sayangku padanya.
“Er, aku sayang kamu dan kamu adalah wanita pertama yang kusentuh sampai  sejauh ini, aku berjanji akan menjaga nama baikmu dan juga rasa sayang ini membuatku bahagia. Aku belum tau apakah aku cinta padamu namun kita telah menunjukan bahwa kita telah saling menyayangi dan ingin saling memiliki. Maka yakinkan cintamu padaku dan akupun akan meyakinkan cintaku padamu.

“ iya ris akupun bahagia, walau aku juga takut kamu akan beranggapan macam-macam padaku.”

Saat aku mencoba untuk meraih kemaluan erna dengan tanganku, erna langsung mencgah tanganku
“ris, aku sedang berhalangan... kotor”
“tapi kamu ga pakai Pembalut” kataku
“iya seharusnya malam ini sudah bersih, makanya aku tidak menggunakan pembalut, tapi biasanya masih suka ngeflek” terang Erna. 

Erna langsung bangun dan masuk kekamar mandi, namun dia kembali membuka pintu kamar mandi untuk mengambil handuk yang sore tadi kugunakan untuk mandi sore.

Kudengar suara orang madi, yang menandakan erna sedang mandi. Sebenarnya terbersit  pikiran untuk menyusulnya mandi namun aku tahan karena takut menimbulkan pikiran negatif bagi erna.


Setelah limabelas menit, kulihat erna keluar dengan pakain lengkap dan rambutnya di  balut dengan handuk tanda dia habis keramas. 



Akupun langsung mengambil handuk bersih di lemari dan masuk kekamar mandi.

“Er... kalau mau ganti kaos, pilih aja ada beberapa kaosku yang lengan panjang.” Kataku sambil masuk ke kamar mandi. 

Setelah selesai mandi, aku keluar hanya dengan berbalut handuk dan aku sengaja ingin berganti pakaian di hadapan Erna. 


Kulihat Erna sedang setengah berbaring sambil membaca hasil printout ketikanya semalam, sambil meliriku yang sedang berganti.


Erna ternyata telah berganti kaos miliku, dan kulihat di gantungan baju ada bajunya yang digantung.

Setelah mengenakan celana pendek dan kaos oblong, aku kembali menghampiri Erna, tanpa dikomando kamipun saling berpelukan dan kembali berciuman, namun kali ini sudah semakin liar...
Aku buka kerudungnya yang terpasang tidak sempurna, kurasakan rambutnya masih basah dan aroma shampo masih sangat kentara.


Kembali ku serang lehernya, diapun sepertinya sudah lebih enjoi menikmati rangsanganku, bahkan belaian tanganya di rambutku menandakan keyakinanya padaku telah mulai tumbuh .

Aku coba mencium dadanya dari balik kaos yang dikenakanya aku kaget karena aku merasakan kalau dia tak lagi menggunakan BH. Aku menatap wajahnya, sepertinya dia tau apa maksudku. Dia menjelaskan kalau dia risih karena BH nya udah bau keringat makanya tidak dipakai lagi.



Maka takusia-siakan kesempatan itu, kutekan wajahku di payunaranya dan dia mulai menggelinjang kegelian, takusangka erna malah menyingkap kaosnya dan menarik mukaku ke dadanya. Maka aku langsung  mencium payudaranya yang sebelah kiri, masihbelum begitu besar, dan putingyapun masih susah untuk di kulum. Maka aku mencoba memainkan lidahku di putingnya. Erna mendesah menahan hikmat: “ah..... sayang...... geli........ ah.....” tapi dia tidak mencoba untuk berontak.


Saat nafsunya mulai bergelora, aku mencoba untuk menyingkap roknya, dan lagi-lagi aku kaget karena Erna sudah tidak lagi mengenakan Celana Dalam. 


Aku tak peduli, lansung saja tanganku ku usapkan di kemaluanya, Erna terpekik dan langsung mengangkat pinggangnya. 

Tanganku terus ku sapukan di sekitar klitoris, selakangan dan pahanya, dan sesekali aku gunakan jari tekunjuku untuk menyentuh clitoris Erna, sambil tetap ku mainkan lidahku di payudaranya.

Luar biasa, erna semakin  erat memeluk bahkan menjambak rambuku dan menekan keepalaku kedadanya, sedangkan pinggulnya bergerak turun naik menikmati rangsangan tanganku di Vaginanya...

“Ah..... sayang, ah.... ah, ah, ah...”

Kurasakan bibir vaginanya semakin basah dan licin, maka aku coba untuk menyusuri bibir vaginanya dengan jariku. Erna semakin tidak beraturan menggeliat kekanan dan kiri, nafasnya semakin menderu dan “aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh” erna kembali mendapatkan orgasmenya yang kedua dengan bantuan jemariku yang sebenarnya hanya bermain di bibir vagina dan klitorisnya saja tanpa masuk ke lobang vaginanya sama sekali.

Erna tersenyum manis, sepertinya dia benar-benar telah bisa menikmati orgasmenya yang ke dua ini. wajahnya terlihat sayu karena kurang tidur namun kebahagiaan tetap bisa kulihat dari senyumnya.

Saat erna meraih leherku dengan tanganya dan ingin menciumku, tiba-tiba kami dikagetkan dengan suara HP nya yang berdering.

"Hallo er, kamu dimana???, kok kamar kamu udah di kunci?. aku mau naroh cucianmu semalalam  ga sempat.. aku ketiduran. ''  ternyata suara sinta yang menelfon.

" owh... aku dah ke perpus nich, kamu si tidurnya kaya kebo... masa aku gedor2 ga bangun2" jawab erna ngeles.

" Gemana tugasnya dah selesai belum ?" tanya sinta
" Udah beres... nanti ketemu di kampus aja ya... " udah ya dah... 

Erna mencoba membuka celana kolorku  setelah menutup telfon. langsung saja tan pa basa-basi dia raih burungku dari dalam celana dalamku... walau terlihat sedikit kaget, namun sepertinya erna sudah beberapa kali melihat adegan film dewasa sehingga tanpa dikomando langsung mengulum kepala penisku dalam mulutnya,

Rasa bergetar, antara geli dan nikmat bercampur aduk di ujung kepala penisku, baru pertamakalinya aku merasakan penisku di oral oleh perempuan. burungku langsung tegak membesar, terlihat mulut erna mulai kewalahan karena sesak oleh penisku yang mulai maksimal ereksi.

"sayang... kok tambah gede, tambah gede terus.."

Aku hanya tersenyum sambil menahan nikmat, karena takut pertahananku akan jebol dan aku belum berani menyemburkan air maniku di mulut erna takut dia jijik, maka aku mencoba untuk menahan kepala erna yang masih terus naik turun memainkan penisku.

Aku angkat kepalanya, lalu aku tarik tubuhnya keatas tubuhku.

sambil kucium bibirya, aku lepas semua celanaku dan juga juga celana dalamku menggunakan kaki. kini aku hanya menggunakan kaos oblong, sedang erna masih menggunakan rok payung dan kaos oblong tanpa celana dalam dan bh.

Penisku yang telah tegak berdiri mengganjal diantara perutku dan perut erna sampai ernya menahan perutnya tidak menindih penisku, sampai ahirnya aku tarik penisku keatas sejajar dengan perutku dan aku tarik tubuh erna menghimpit penisku daiantara perutku dan perutnya.

Rasanya hangat bercapur enak, terlebih rok erna yang halus dan sedikit kasar sangat menimbulkan sensasi rasa yang sangat nikmat ketika kulitnya dan rok payungnya bergesekan dengan penisku membuatku melenguh menahan nikmat.

Sepertinya erna mengira aku kesakitan hingga dia melepas pelukanya dan mengangkat tubuhnya tanpa bergeser dari atas tubuhku, " kenapa sayang? sakit ya?. apa aku lepas aja roku?" tanya erna.
Aku mengangguk, sambil menyingkap rok erna ke atas, dam kutarik pantat erna agar menindih  kemaluanku, dan kali ini kembali penisku kuarahkan keatas sejajar perutku hingga terlihat seperti ular yang terlentang dan langsung kuarahkan vagina erna menempel dan menindih penisku yang terbaring di atas perutku...

kini belahan vagina erna tepat diatas penisku, kemaluan kami yang sama-sama basah oleh cairan pelumas alami yang terus membanjir karena rangsangan-rangsangan maka semakin menambah sensasi kenikmatan diantara kemaluan kami berdua.

Erna sepertinya mulai menemukan kenikmatan baru, tubunhya semakin giat di gerakan keatas dan ke bawah, bahkan terkadang menekan dan juga membuat gerakan memutar, penisku sebenarnya terasa pegal namun tertutupi dengan rasa nikmatnya gesekan antara bibir vagina erna dan juga titik nikmat di antara kepala dan batang penisku...

Semakin lama erna semakin ganas dalam menggesekan vaginanya, bahkan posisinya kini seperti katak yang mengankangi tubuhku, payudaranya kuremas, kulihat mukanya memerah dan matanya berulang kali terpejam menahan nikmat, mulutnya merintih dan terengah-engah....  sampai ahirnya dia memekik dan memeluk tubuhku sangat erat... sambil terus merekatkan kemaluanya ke penisku, kurasakan cairan hanyat meleleh dari kemaluanya membanjiri paha dan juga kantung telurku...

Aku yang saat itu belum keluar, masih menahan gairah, namun aku coba menahannya karena erna masih terlihat sangat lelah.

Lalu kubaringkan erna dengan rapi, kututupi pahanya setelah ku seka dengan handuk, kurapikan roknya walaupun belum menggunakan celana dalam.

Mata erna kembali terbuka, "ris.... " panggilnya lirih..
"Kamu beneran sayang sama aku kan?, kalau sudah kaya gini... aku tak mungkin bisa hidup tanpamu.."
Aku hanya menjawab dengan kecupan di keningnya.
Saat aku memeluknya, erna kembali memegang penisku yang masih mengeras walaupun sedikit mengendur.
"ih.. ini belum keluar ya?"
aku mengangguk..
" trus gemana?, mau di masukin biar keluar??" aku hanya menggeleng... " terus gemana dong???, aku dah berulang kali kok kamu ga.."
lalu erna menarik tubuhku untuk menindih tubuh nya, lalu membuka kembali roknnya bahkan dia melepasnya, lalu dia juga melepas kaosnya, dan juga kaosku...
kini kami telanjang bulat, tanpa pakaian selembarpun, lalu erna menuntun penisku ke bibir vaginanya, menggesek-gesekanya, mencoba memasukanya namun karena vaginanya masih perawan terasa mentok kepala penisku tidak dapat masuk dan terus menggesekanya. aku memang sengaja tidak menekan penisku agar masuk karena memang aku masih sadar kalau aku tak ingin merusak keperawanan erna. akal sehatku masih berfungsi.

Erna kelihatanya semakin bernafsu, beberapa kali erna menggesekan kepala penisku dengan kasar ke klitorisnya, yang semakin menonjol dan bibir vaginanya semakin basah... seandainya aku menekanya pastilah dengan sekali hentak penisku masuk ke vagina erna. tapi aku tetap menahanya.

Erna telah larut dengan rasa nikmat dan aku ingin mengantarkanya kepada orgasmenya yang ke empat, maka segera aku kulum putingya yang sebelah kanan dan kiri secara bergantian dan benar saja erna semakin mengerang dan tidak lama kemudian tubuhnya terhentak-hentak dan dari vaginanya kurasakan ada yang muncrat walaupun tak seberapa banyak, seperti cipratan minyak goreng saat menggoreng ikan.

Ternyata erna telah orgasme, ah... aku mulai pegal dan ingin mengahiri petualangan hari ini, maka dengan pelan aku naikan pahaku di atas perut erna, dan penisku kutaruh diantara belahan dada erna.
sesekali penisku yang mengeras aku gesekan di puting payudara erna bergantian, aku selusuri leher erna dengan penisku, bahkan aku sesekali menaruhnya diatas bibir erna dan ernya menyambutnya dengan menjulurkan lidahnya, lalu aku taruh di kelopak matanya, di lobang hidungnya, di antara telinga, dan hampir seluruh wajahnya aku belai dengan penisku...

Erna terlihat semakin mengenalku, mengenal penisku dan... pasti semakin mencintaiku...
kembali aku gesekan penis dan kantung telurku di antara belahan dada erna , semakin intens aku menggesekanya maka rasanya semakin nikmat dan kemudian laharku menyembur sangat banyak sekali menyiram dada, leher, bahkan ada yang ke muka dan juga rambut erna...

Erna kaget, campur girang dan tertawa geli, " sayang... banyak sekali....."
aku yang saat itu menahan nikmat, tak lagi bisa mengontrol pancaran spermaku di atas dada erna.
aku ambruk di samping erna, dan saat aku lirik erna sedang membalurkan  spermaku ke seluruh permukaan perut, dada dan lehernya, seperti masker katanya.

lalu dia mengecup kepala penisku dan menjilati sisa-sisa sperma yang masih melelleh keluar dari lobang penis.

karena lelah dan kurang tidur, maka aku terlelap entah beberapa saat. sampai aku merasakan kecupan di bibirku.

Saat aku buka mata, ternyata di sampingku telah duduk erna yang telah rapi menggunakan baju dan jilbab lengkap dan rapi.

ternyata saat aku tertidur tadi , dia pulang dan berganti pakaian bahkan juga sekalian beli makan siang yang sekaligus jadi sarapan buat kami berdua karena pagi tadi kami tidak sempat sarapan.

" bangun sayang... mandi dulu.. nanti kita makan bareng, nich aku udah beli makanan."

setelah mandi dan makan bareng, aku antar erna ke kampus dengan motor, lalu erna pun kuliah sedang aku pergi ke ruang BEM dan kembali melanjutkan tidur.



0 komentar: